KUALA TUNGKAL, Jambi — Suasana Taman Siswa, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, berbeda pada Sabtu (12/9/2026). Puluhan pesepeda, pegiat seni, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat berkumpul dalam kegiatan Tungkal Pentas Puisi Vol. 2.
Kegiatan yang digagas Ambung Nyastra bersama Komunitas Gowessantai itu mengusung tema “September Tanpa Biru”. Acara tersebut memadukan aktivitas olahraga, pembacaan puisi, musik, dan pertemuan antar-komunitas dalam satu ruang publik.
Rangkaian kegiatan dimulai sekitar pukul 16.00 WIB melalui Gowes Santai. Puluhan pesepeda berkeliling sejumlah sudut Kota Kuala Tungkal sebelum kembali ke Taman Siswa.
Memasuki malam hari, panggung puisi dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Sebanyak 21 peserta tampil membacakan karya dengan karakter dan gaya masing-masing. Taufiqur R. memandu jalannya pertunjukan.
“Peserta tahun ini 21 orang. Sebagian berasal dari sekolah dan mahasiswa Kuala Tungkal,” kata Hariski, Ketua Pelaksana kegiatan.
Salah satu penampilan yang mendapat perhatian adalah pembacaan puisi oleh Nanang. Ia membawakan puisi dengan pendekatan teatrikal, membuat pembacaan tidak sekadar menjadi aktivitas membaca teks, tetapi juga menghadirkan ekspresi tubuh dan suasana panggung.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan musik. Marloes Brother membawakan sejumlah lagu karya Iwan Fals, sementara Iyan Abah menghadirkan musik noise yang memberikan warna berbeda dalam rangkaian pertunjukan malam tersebut.
Bagi penyelenggara, kegiatan ini bukan sekadar pentas puisi. Kehadiran berbagai komunitas dan pelaku usaha lokal menjadi bagian dari upaya membangun ruang perjumpaan bagi masyarakat melalui seni dan aktivitas komunitas.
Sejumlah UMKM dan komunitas lokal turut mendukung kegiatan tersebut, antara lain Real Chicken, Real Steh, T&T Home Cafe & Resto, Bronut, Kedai Hamsan, Dapoer Kanaya, Warkop Otok, Toko Kopi Mote, Kopi Setumat, Estebu, Candelia Coastal Conservation, TNT Entertain, KWJ Indonesia, Grafer Printing, Tungkal Bercerite, Hitstungkal, serta Indonesian Creative Cities Network (ICCN).
Tungkal Pentas Puisi Vol. 2 memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya berbagai ekspresi warga. Puisi, musik, olahraga, UMKM, dan aktivitas komunitas hadir berdampingan tanpa sekat dalam satu ruang.
Di tengah terbatasnya ruang ekspresi seni di daerah, kegiatan semacam ini menjadi bagian dari upaya komunitas untuk mempertahankan ruang publik sebagai tempat berkumpul, berekspresi, dan membangun percakapan melalui kebudayaan.