JAMBI, 30 September 2026 — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus meluas. Hingga 30 September 2026, luas lahan yang dilaporkan terbakar mencapai 34.918 hektare. Pada periode yang sama, pemantauan koalisi masyarakat sipil mencatat 708 titik panas tersebar di sembilan kabupaten dan kota.
Kebakaran juga berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Di Kota Jambi, indeks Kualitas Udara Jambi update AQAIR mencapai 393, masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara data surveilans hingga 29 September 2026 mencatat 9.050 kasus ISPA.
Angka tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya terjadi di kawasan yang terbakar, tetapi telah menjalar ke ruang hidup masyarakat melalui paparan asap dan pencemaran udara.
34.918 hektare terbakar
Berdasarkan Informasi Terkini Karhutla Provinsi Jambi per 30 September 2026 yang dihimpun WALHI Jambi bersama koalisi masyarakat sipil, luas area yang terbakar mencapai 34.918 hektare.
Dalam pemetaan yang sama, terdapat 708 titik panas yang tersebar di wilayah Jambi.
Sebarannya adalah:
- Tanjung Jabung Timur: 439 titik
- Sarolangun: 80 titik
- Muaro Jambi: 64 titik
- Batanghari: 52 titik
- Merangin: 23 titik
- Tanjung Jabung Barat: 22 titik
- Tebo: 20 titik
- Bungo: 7 titik
- Kota Jambi: 1 titik
Dalam hal ini, Tanjung Jabung Timur menyumbang sekitar 62 persen dari seluruh 708 titik panas yang dipetakan koalisi.

Konsentrasi titik panas tersebut terutama berada di kawasan pesisir dan dataran rendah Jambi yang memiliki bentang lahan gambut dan perkebunan dalam skala luas.
Namun, data titik panas satelit perlu dibedakan dari data luasan kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Pemantauan satelit menunjukkan ratusan titik panas
Data pemantauan NASA Last 24 Hours yang digunakan Manggala Agni juga menunjukkan adanya titik panas di Jambi.
Dari satelit Terra/Aqua, terdeteksi 64 titik panas, terdiri dari:
- 28 high confidence
- 32 medium confidence
- 4 low confidence
Satelit SNPP mencatat 154 titik panas, dengan:
- 5 high confidence
- 149 medium confidence
Sementara satelit NOAA-20 mencatat 195 titik panas, terdiri dari:
- 5 high confidence
- 190 medium confidence

Data tersebut memperlihatkan bahwa indikasi panas masih terdeteksi di berbagai wilayah Jambi pada saat laporan disusun.
Kualitas udara Kota Jambi masuk kategori sangat tidak sehat
Dampak karhutla juga terlihat dari memburuknya kualitas udara.
Pemantauan IQAir yang tersedia secara real-time sempat mencatat AQI Kota Jambi mencapai 393 US AQI, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 271,9 µg/m³.

Angka tersebut merupakan indeks kualitas udara dengan metodologi US AQI sehingga tidak dapat disamakan secara langsung dengan angka ISPU Indonesia.
Pada kondisi tersebut, masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perlindungan lebih.

Sumber: Amin. udara di jambi 30 September 2026
Pemerintah Kota Jambi juga telah menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh berdasarkan Surat Edaran Wali Kota Jambi Nomor 29 Tahun 2026 sebagai bagian dari perlindungan peserta didik ketika kualitas udara memburuk.
9.050 kasus ISPA dalam dua pekan terakhir
Dampak kesehatan menjadi salah satu indikator paling nyata dari memburuknya kualitas udara.
Berdasarkan data surveilans per 29 September 2026 yang disampaikan Kepala BPBD Kota Jambi Doni Sumatriadi, tercatat 10.443 pasien dengan berbagai keluhan kesehatan yang dipantau dalam konteks penanganan dampak bencana.
Rinciannya:
- ISPA: 9.050 kasus
- Diare: 951 kasus
- Konjungtivitis/iritasi mata: 442 kasus
ISPA menjadi kasus yang paling dominan, mencapai sekitar 86,7 persen dari 10.443 kasus yang tercatat.
Jika dibandingkan dengan data 15 September 2026, ketika kasus ISPA tercatat 6.508 kasus, maka terdapat penambahan:
9.050 – 6.508 = 2.542 kasus.
Dengan demikian, jumlah kasus ISPA meningkat sekitar 39,1 persen dalam 14 hari.
Perlu dicatat, angka peningkatan kasus tersebut menunjukkan perubahan jumlah kasus yang tercatat dalam surveilans. Angka itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap kasus ISPA disebabkan oleh asap karhutla, sehingga hubungan kausal perlu dibaca berdasarkan data kesehatan dan epidemiologi lebih lanjut.
Dari kebakaran menjadi krisis kesehatan publik
Rangkaian data tersebut memperlihatkan tiga persoalan yang berlangsung bersamaan: luasan kebakaran yang besar, kualitas udara yang memburuk, dan meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengukur berapa banyak api yang berhasil dipadamkan.
Pemerintah perlu membuka data mengenai lokasi pasti area terbakar, status dan fungsi lahannya, penguasaan atau konsesi, penyebab kebakaran, serta hasil pemeriksaan terhadap pihak yang berada di sekitar lokasi kebakaran.
Hal ini penting terutama untuk kebakaran yang terjadi di wilayah gambut dan kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting.
Mentri Kehutanan: Karhutla di Jambi “Semakin Membaik”
Pernyataan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada 29 September 2026 yang menyebut kondisi karhutla di Jambi semakin membaik perlu diuji dengan data di lapangan.

Sebab, per 30 September 2026, luas area terbakar telah mencapai 34.918 hektare, dengan 708 titik panas terpantau. Di Kota Jambi, ISPU Stasiun Paal Lima mencapai 248 atau kategori sangat tidak sehat, sementara kasus ISPA per 29 September mencapai 9.050 kasus, naik 2.542 kasus dibandingkan 15 September.
Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka: indikator apa yang digunakan untuk menyatakan karhutla semakin membaik?
Masyarakat berharap pemerintah tidak berhenti pada pernyataan, tetapi segera memastikan pemadaman kebakaran, perlindungan kesehatan warga, keterbukaan data, serta penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Klaim perbaikan harus dibuktikan dengan data, sementara keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. (too)