JAMBI, Kamis 08 Oktober 2026 — Aliansi mahasiswa di Provinsi Jambi menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Jambi, Kamis (8/10/2026). Mereka mendesak pemerintah segera menyelesaikan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berlangsung sekitar tiga bulan dan kembali menimbulkan kabut asap di sejumlah wilayah.
Mahasiswa menilai karhutla di Jambi bukan persoalan musiman semata. Kebakaran terus berulang setiap tahun, sementara upaya pemerintah dinilai lebih banyak berfokus pada penanganan ketika api sudah muncul, bukan mencegah agar kebakaran tidak terus berulang.
“Karhutla ini sudah berlangsung berbulan-bulan. Setiap tahun persoalan yang sama terus terjadi. Pemerintah harus memberikan solusi yang konkret, bukan hanya melakukan pemadaman ketika kebakaran sudah meluas,” ujar massa aksi dalam orasinya.
Aksi berlangsung di tengah penjagaan ketat aparat kepolisian. Ratusan personel dikerahkan di sekitar Kantor Gubernur Jambi dan menutup akses masuk dengan pagar besi serta perlengkapan pengamanan.
Situasi kemudian memanas ketika massa berupaya mendekati atau memasuki area Kantor Gubernur. Terjadi benturan antara massa aksi dan aparat yang berjaga. Dalam situasi tersebut, pagar besi di gerbang Kantor Gubernur Jambi mengalami kerusakan.

Bagi mahasiswa, persoalan karhutla tidak dapat diselesaikan hanya dengan pengerahan personel dan pemadaman api. Mereka mendesak pemerintah mengevaluasi tata kelola kawasan rawan kebakaran, terutama wilayah gambut, sekaligus memastikan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan atau membiarkan terjadinya kebakaran.
Karhutla juga dinilai telah menjadi ancaman terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas warga, pendidikan, transportasi dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan warga dengan penyakit pernapasan.
Mahasiswa memberikan tenggat kepada Pemerintah Provinsi Jambi untuk menunjukkan langkah konkret dalam waktu satu minggu.
Mereka mengancam akan kembali turun ke jalan dengan aksi yang lebih besar apabila pemerintah tidak memberikan solusi yang dianggap mampu menjawab persoalan karhutla.
“Kalau dalam minggu ini tidak ada solusi konkret, kami akan melakukan aksi berjilid-jilid,” kata mahasiswa.
Mahasiswa menegaskan, tuntutan mereka bukan semata meminta pemerintah memadamkan api. Mereka meminta pemerintah menjawab persoalan yang lebih mendasar: mengapa karhutla terus berulang setiap tahun, siapa yang harus bertanggung jawab, dan langkah apa yang akan dilakukan agar masyarakat Jambi tidak terus hidup dalam ancaman asap.
Bagi mereka, penyelesaian karhutla tidak cukup dilakukan ketika api telah membesar. Pencegahan, perlindungan kawasan rentan, penegakan hukum dan pemulihan lingkungan harus menjadi bagian dari kebijakan yang berjalan sepanjang tahun.